“Tiara, cita-cita kamu emangnya apa?,” tanya Ibu Dokter pada saya.

Saya diam sebentar, setengah malu, tapi akhirnya saya berani memuntahkan kata-kata padanya.

“Hmmhh… Saya ga tau Dok. Apa ya… hmmmh.. sebenarnya dari dulu saya cuma mau jadi dedicated mother and housewife,” kata saya berhati-hati. Saya kemudian mengamati ekspresi Bu Dokter yang tengah mewawancarai saya untuk kebutuhan surat keterangan bebas narkoba. Lega, tidak ada sedikit pun gurat meremehkan dari raut mukanya.

Tidak ada yang salah dengan cita-cita. Namun entah mengapa saya merasa tertekan setiap harus menceritakan apa yang saya inginkan selama ini. Mungkin karena mendadak insecure, saya langsung hubungi beberapa teman perempuan dan menanyakan, apa cita-cita kamu?

Jawabannya berbeda-beda. Saya kagum dengan mereka. Yang saya kagumi bukan cita-cita yang mereka utarakan, tapi keberanian mereka untuk memilih dan kemauan untuk menanggung tiap risiko yang membuntutinya.

Mengapa saya insecure? Menjadi perempuan yang tinggal di rumah dan mengurus anak kerap dianggap sepele oleh banyak orang. Terkadang, hal itu pun dilakukan oleh suami dari beberapa perempuan yang saya tahu.

Banyak orang juga selalu bilang: “buat apa kerja susah-susah, udah dapat karier bagus, ujung-ujungnya resign dan ngurus anak di rumah. Buat apa tinggi-tinggi sekolah, ujung-ujungnya entar juga ngurus anak.”

Kan? Kan? Kan? Pernah denger orang bilang gitu ke kamu ga wahai teman-teman perempuan?

Perasaan ini sulit untuk diabaikan. Walau sudah banyak orang di luar sana, termasuk Dian Sastro-yang lagi hobi banget bikin InstagStory sepanjang deretan semut– pernah bilang bahwa perempuan itu mesti well educated biar di rumah saja mengurus anak, tetap saja, saya merasa mengutarakan cita-cita saya sebagai ibu itu membuat saya tidak enak hati.

wpidscreenshot_2014110221272301

sumber

Tapi setelah mengobrol dengan Ibu Dokter Psikiatris yang baik hati serta beberapa teman saya, sirna sudah perasaan konyol itu.

Yap.. Cita-cita saya adalah jadi ibu.

Saya dibesarkan oleh seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan hidupnya untuk mengurus keluarga. Ibu saya dulu adalah guru SMKK. Tapi saat kakak lahir, hatinya tidak tega jika anaknya kurang perhatian. Keputusannya bulat, Ibu resign dan tinggal di rumah mengasuh anak, walau dulu dia dan bapak punya satu asisten rumah tangga/pengasuh.

Seluruh hidup saya mostly dihabiskan berada dekat dengan ibu. Mungkin ini dia alasannya kenapa sejak kecil saya ingin sekali menikah muda dan punya anak cepat. Supaya jarak umur dia dengan saya tidak jauh, bisa berkomunikasi layaknya teman, bisa berbagi banyak hal, seperti saya dan ibu.

Dulu saya punya cita-cita nikah muda, umur 22 kalau bisa sudah menikah. Tapi nyatanya usia segitu saya masih disibukkan dengan urusan skripsi yang belum kelar dan pekerjaan sebagai wartawan. Usia bertambah, saya lupa tentang keinginan terbesar saya itu. Teman menikah, saya ingin. Teman kerja bagus, saya juga ingin. Teman kuliah master, saya kepingin banget.

Sebelum usia 25 tahun, saya deep talk dengan salah satu sahabat laki-laki. Saya utarakan keinginan untuk bisa melakukan semuanya namun bisa segera menikah-lah yang jadi urutan pertama. Dia ketawa dengar saya yang curhat sambil menye-menye pengen nikah tapi kemudian dia mendadak serius.

Dia berpesan, kira-kira seperti ini: “jangan jadiin opsi menikah dan punya anak sebagai pelarian saja. Coba, tanya kembali pada diri kamu, masih ada ga yang kamu inginkan. Kamu tahu ‘kan kalau sudah menikah, ruang gerak kamu terbatas. Mungkin kamu bisa kerja dan kuliah, tapi itu bakal susah banget. Pelan-pelan saja, cari apa yang harus kamu prioritaskan.”

Apa yang dia bilang membuat saya jadi banyak berpikir. Saya turuti. Kemudian saya buat mana yang saya prioritaskan. Hal ini pun membuat saya lebih terarah dan lega (dan juga lupa akan kegalauan karena patah hati sama laki-laki).

Waktu pun berlalu, sekarang usia saya 26 tahun 2 bulan. Bekerja di Bandung sebagai penulis tetap di satu startup properti dan penulis lepas di mana pun saya inginkan serta sedang berusaha untuk bisa mendapatkan beasiswa master. Itulah dua prioritas yang saya putuskan saat tepat berusia 25.

e60030ded3326a4e72d49704a1230979

sumber gambar

Kalau kamu tanya apa yang saya cita-citakan sekarang, akan saya jawab: saya tetap mau jadi seorang ibu. Sebagus apa pun jenjang karier yang saya miliki, setinggi apa pun pendidikan yang saya gapai, saya tetap mau jadi seorang ibu. Kapan pun itu waktunya, saya tetap mau jadi ibu.

Tapi sekarang yang terpenting adalah melakukan dan menggapai apa yang Tuhan sudah aturkan untuk saya dan menikmati tiap waktu penantian hingga akhirnya saya bisa menjadi seorang ibu.

Terserah kamu mau bilang apa..

Advertisements

2 thoughts on “Tiara, Cita-Cita Kamu Apa Sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s