Main ke Rammang-rammang udah masuk ke bucketlist saya kalau berkunjung ke Makassar. Saking pengennnya dan saking enggak taunya mau pergi sama siapa, saya udah nyiapin diri dan berencana buat sewa motor jauh hari sebelum tiba di Makassar, November 2016 lalu. Rammang-rammang, saya dataaaaaaaaaaang……..

Untungnya, Alhamdulillah-nya, sampai di Makassar saya dijemput salah satu teman, sebut saja Resa. Belum mandi, belum sarapan (waktu itu saya landed jam 07.50 WITA) saya ajak dia buat main ke sana. Awalnya dia ragu, tapi mungkin karena kasihan dan emang anaknya kebaikan, akhirnya kita cabut ke sana.

Perjalanan ke Rammang-rammang dari Bandara Sultan Hasanuddin enggak sampai 1 jam (naik mobil pribadi). Lumayan dekat, cuma 24 km kalau liat di Google Maps. Jalanannya lurus doang lewatin jalan poros Daya-Maros. Cukup percayakan pada plang jalanan, Google Maps, dan sedikit tanya sama orang warung, sampai deh.

IMG_20161117_125034

Dermaga Utama Rammang-rammang

Ternyata, pegunungan karst Rammang-rammang ini berbentuk kompleks yang terdiri dari beberapa wilayah. Saya kira pengunjung bisa tracking, tapi ternyata harus naik perahu motor kecil yang ada di dermaga. Harga sewa perahunya kalau enggak salah ingat Rp200 ribu atau Rp250 ribu, no tawar-tawar!

Kami pun cus naik perahu menyusuri sungai yang saya pun enggak tau apa namanya (setelah cari di Google ternyata namanya Sungai Pute’) ke tujuan pertama, Kampung Berua. Sepanjang perjalanan, gunung batu karst yang tinggi menjulang dan rawa-rawa di sisi kanan-kiri jadi pemandangan.

IMG_20161117_120023

Sejauh mata memandang

IMG_20161117_115908

Takjub sekaleeeee karena akhirnya bisa ada di sana. Tapi ternyata perasaan itu enggak bertahan lama karena perjalanannya cukup panjang, panas, dan yang dilihat ya itu-itu saja.

Sampai di Dermaga Kampung Berua, kami diminta untuk isi semacam buku tamu dan membayar retribusi seikhlasnya. Keluar dermaga, pemandangannya asik..! Sejauh mata memandang ada sawah, rumah-rumah warga, kolam-kolam kecil, dan juga gunung kars yang mengelilingi.

IMG_20161117_114034

Tapi lama-lama bikin bosan juga.

Nah, kata Resa, di Kampung Berua ada semacam piramida kuno peninggalan masa lampau. Hmmh.. kedengarannya menarik. Kami pun jalan menyusuri kampung yang dikelilingi sawah luas, naik-turun bukit batu, dan akhirnya kami sampai. Ini dia penampakannya

IMG_20161117_114459

Piramida, katanya..

Setelah dari sana, kami memutuskan untuk kembali ke perahu. Cukup banyak orang yang tinggal di kampung ini. Di tengah jalan, kami juga berpapasan dengan anak-anak kecil berseragam SD yang baru pulang sekolah. Kebayang, mau ke sekolah aja super jauh dan harus naik perahu. Jadi terharu sendiri.

IMG_20161117_115537

Next stop, saya diajak ke Telaga Bidadari. Awalanya mau, tapi lama-lama kok makin panas dan meger ya. Soalnya, kalau mau ke sana juga harus tracking cukup lama. Akhirnya enggak jadi deh ke sana. Tapi setelah baca-baca, worth sih buat dikunjungi karena penampakannya cukup oke.

Last stop, kami berkunjung ke area padang rumput yang di tengah-tengahnya banyak bebatuan karst. Tempat apakah itu? Saya pun lupa.

IMG_20161117_123200

OK..

Sebenarnya, menurut saya, berkunjung ke Rammang-rammang ini sedikit membuat patah hati. Emang keren, tapi banyak bosannya. Mungkin kalau tujuannya buat motret lanskap atau nambah koleksi selfie atau wefie, ok punya!

Tips buat kamu yang mau main ke Rammang-rammang:

  • Pakai topi atau bawa payung. Asli, panas banget!
  • Bawa minum karena lumayan banyak jalannya (dan juga panas)
  • Pergi ke sana gambrengan aja, supaya lebih murah.
  • Harus fit lahiriah ya! Supaya bisa explore
  • Jangan malu bertanya sama daeng (mamang) perahu, supaya tau soal ceritanya Rammang-rammang.

Kalau lagi main ke Makassar dan ada waktu luang (dan emang penasarannya minta ampun kayak saya), bolehlah Rammang-rammang dijadikan tujuan. Tapi kalau buat dikunjungi dua kali? No thanks :p

Advertisements

9 thoughts on “Wisata Kilat ke Pegunungan Karst Rammang-Rammang

  1. Kampung orangtua saya cuma sepelemparan batu dari Rammang-rammang. Tapi sekali pun saya belum pernah ke sana. Sebagai seorang yang juga senang bertualang, saya merasa gagal. Tidak tahu kenapa, saya kurang tertarik ke tempat itu. Justru malah senang main di Toraja atau Bulukumba. Saya kalah sama orang jauh kayak Mbak Tiara.

    Like

    1. Biasanya emang gitu ga sih mas, justru warga yang tinggal di situ kurang excited. Pengennya jalan yang jauh. Sama halnya kayak saya yang males buat ngunjungi tempat-tempat wisata di Bandung yang berjibun.. Hahah.. Salam kenal Mas!

      Like

      1. Wah, saya anak Makassar loh, Teh. Jangan dipanggil Mas. hahaha…
        Malah saya pernah mengeksplore terminal Ledeng sampai Lembang, Teh. Urang sabulan ngakos di Cicaheum. Salam kenal juga, Teh.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s